Senin, 01 Juni 2015

0
Posted in
Bismillah . . . .
4 bidadari pondasi kuat Hidupku dan Cintaku

Cinta . . . !!! semua orang pasti mengenal kata ini, dari anak usia 5 tahun sampai yang sudah lansia juga pasti kenal kata ini, tapi tak begitu banyak yang mengerti maknanya dan tak ada yang tau siapa yang mengerti maknanya, bagiku sepenuhnya makna cinta hanya bisa dirasakan dan dimengerti oleh orang yang mencintai dengan tulus. dalam cerita ini saya akan mengungkit sejarah hidup saya yang mungki kata-kata saya bisa menerangkan anda tentang
apa itu cinta walaupun pada kenyataannya cinta saya belum tentu sebuah cinta yang sesungguhnya dan pada intinya ini hanyalah tetang kisah cinta saya.
19 tahun usia saya saat menulis cerita ini, tepat tanggal 25 mei kemarin saya mendapat gelar 19 tahun ini, dan memang cukup susah dipercaya, saya adalah orang yang akan menjadi bahan tertawaan yang takan dipercaya bila pada kenyataannya dan memang nyatanya saya belum pernah menjalin setatus "Pacaran", jadi sebelum lebih banyak lagi yang mempertanyakan kenyataan hidup saya ini, saya akan bercerita tentang 13 tahun lalu kisah hidup saya. dulu hiduplah seorang anak manja yang kehidupannya penuh dengan kebebasan dengan setiap permintaan ajaibnya mendapat turutan dari orang tuanya dan orang tua dari orang tuanya, dan bila ia ingat-ingat kembali tentang masalalunya, ia merasa bahkan semua jajaran keluarganya memberikan kepedulian terhadapnya, entah anugrah apa yang menyelimuti hidupnya hingga hidupnya begitu terarah seolah telah diatur oleh perencana hidup terbaik (Allah). yahhh . . . itulah saya seorang anak culun yang hidupnya penuh paksaan untuk menjadi lebih baik lagi. semuanya berawal saat kepindahanku kesekolah baruku di ibu kota dari bersama nenek dan kakek di kampung menjadi bersama ibu bapak ku di ibu kota, dan disinilah kisah cintaku berawal, kisah cinta seorang anak culun yang tidak akan pernah ada yang tau. saat itu pertama kalinya aku melangkahkan kaki kedalam ruangan kelas baruku tepatnya saat itu aku duduk di bangku kelas 4 SD, dan bimsalabim . ..  ada perasaan baru yang kurasakan saat memasuki ruangan kelas saat itu, aku merasa menjadi buta melihat sekelilingku dan semua pandaganku hanya tertuju pada seorang dengan costum merah putih yang senyumnya membekas indah hingga aku menulis cerita ini. yah . . . sebagai anak SD tentu aku bertanya-tanya apa yang kurasakan ini karena jujur aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini, tiba-tiba si anak culun yang suka beramain ketapel bergetar kencang hatinya memandang sekilas wajah seseorang meskipun selama 3 tahun bersamanya pun iya tak pernah melihat begitu jelas wajahnya, sebab anak culun itu terlalu banyak menunduk bukan karena dia sholeh tapi begitulah kehidupannya. perasaan itupun menjadi pertanyaan yang tak terselaikan dalam hidupnya, hingga suatu ketika saat ia duduk di bangku kelas 6 SD semester ganjil perasaan bidadari yang ia kagumi terungkap melalui mulut seorang temannya bahwa ia menyukai si anak culun itu, Sungguh ia sebenarnya adalah si anak culun yang penuh keberuntungan, karena bidadari yang ia kagumi adalah bintang dikelasnya dan memang sewajarnya begitu karena tidak hanya indah dia juga siswi yang pandai dikelasnya, sementara dia hanyalah anak culun yang mampu lulus karena belas kasihan guru akan sikapnya yang tak pernah membuat masalah, dan tanpa ia sadari dengan posenya sebagai anak culun ia malah mengacungkan gumpalan tangan kecilnya seolah jagoan yang tidak terima dengan perkataan teman si bidadari pujaan hatinya itu, tentang perasaan sang bidadarinya yang ternyata juga menyukainya. mungkin karena menurutnya mana mungkin bidari sempurna yang senyumnya menyejukkan hati yang ia kagumi itu jatuh hati padah anak culun yang tak sedikitpun ada yang bisa dikagumi darinya. yah . . .  terakhir kata yang ia dapatkan adalah kata "hay saidul" dikertas ujiannya dan setelah itu semuanya berlalu begitu saja tanpa respon dari si culun, bukan karena tak ada cinta dihatinya melainkan karena sedikitpun ia sendiri tak mengerti dengan perasaannya sendiri. semuanya berlalu dari waktu kewaktu hingga dia mulai mengenal kata "Pacaran" dari sekelilingnya dengan perasaan yang terus meraba hal yang sama dari bidadari lain yang ada disekelilingnya. tapi kenyataannya tak dapat ia rasakan kembali perasaan itu hingga pada suatu saat ia mendapatkan beberapa teman yang selalu berkumpul bersamanya dan ada 3 diantaranya yang membuat pertama kalinya ia bercerita perasaanya terhadap seorag bidadari yang tak tergantikan. tepatnya saat itu dia duduk dibangku kelas 2 Smp dengan penampilannya yang mulai berubah dari si anak culun yang bodoh dimata teman-temannya menjadi seorang anak smp yang cukup pandai dan berbadan sedikit menarik, dengan perasaannya yang terus memaksanya untuk mencari seorang yang bisa menjadi sahabat dalam hidupnya si culun mulai berubah dari anak manja kini ia mulai memiliki banyak teman, dan disinilah ia coba mengukir kisah barunya, saat itu mungkin ada beberapa bidadari yang cukup ia kagumi akan keindahan parasnya, namun dengan kepribadian yang dia miliki dan belajar dari kehidupan orang lain dan dirinya sendiri, ia tak hanya menilai dari paras seseorang tapi dia juga coba meraba dan melihat isi hatinya kepada siapa hati nya menjadi lebih berdetak kencang, dan saat itu ada dua orang yang mampu membuatnya merasa nyaman akan tingkahnya saat bersama, tapi dengan gaya hidupnya entah mengapa tak ada yang percaya bahwa ia juga bisa jatuh hati, seorang pertama yang ia kagumi memang benar mencintainya akan tetapi cara hidup sang bidadari membuat ia tak bisa mempercayakan cintanya, akhirnya terpendamlah rasa itu pada bidadari si hitam manis itu, begitupun perasaan sang bidadari hitam manis itu yang seiring waktu memilih cukup menjadi temannya karena lelah meyakinkan si anak culun tadi tentang perasaannya, dan sianak culun itupun menyadari tak mungkin mempercayakan cintanya pada orang yang mampu mencintainya dengan perasaan yang menurutnya cukup tulus tapi disisi lain dia malah bersama orang lain. itulah akhir kisah kedua bidadarinya yang berakhir pada rasa cinta dalam hati atau cinta yang terpendam dan kisah bidadari ketiganya pun tak jauh berbeda, walaupun sang bidadari yang ia kagumi ini cukup cantik dan menawan serta tingkahnya yang ia senangi, tapi kisah cintanya yang ketigapun berakhir pada rasa memendam cinta dalam pengahrapan, bukan karena mereka tak saling menyukai, tapi karena si anak culun ini sadar cinta yang ia ketahui saat itu tidak ada yang namanya cinta yang komitmen pada satu orang, yang ada hanyalah perasaan egoisme masing-masing yang ingin permintaannya dituruti oleh orang yang dicintainya,lalu siapa yang mampu bertahan menuruti permintaan egoisme masing masing dan mengungkapkan perasaan, disitu kamu bisa mendapatkan orang yang kamu cintai, tapi ia percaya ia tidak akan mendapatkan kebahagian cinta dengan cara seperti itu. waktu berlalu dengan begitu saja walaupun sempat ada beberapa orang yang menyatakan perasaan kepadanya, ia hanya menasehati orang itu bahwa ia hanya ingin lebih fokus dengan pendidikannya, padahal hati kecilnya tak pernah berhenti bertanya dan mengemis pada dirinya sendiri bahwa jiwa ini butuh teman untuk berbagi, teman yang selalu ada dan terpacu pada alasan umum berpacaran"penyemangat hidup", alasan ini yang kembali membuat dia semakin bodoh, tepat pada kelas 2 SLTA dia kembali mengemis cinta seorang teman dekatnya, Semua perasaan nyaman itu muncul ketika mereka duduk berdekatan dan si bidadari memberikan respon kenyamanan baginya, kepatahuan dalam candaan yang dibuat dalam meminta tolong pada sang bidadari, kepedulian sang bidadari, dan semua kenyamana respon sikap yang diberikan sang bidadari kepadanya membuat dia merasa, cinta itu hadir ketika kita saling bersama dan mengerti satu sama lain. dan mulailah dia kembali menjadi lebih bersemangat dalam hidupnya, namun karena sudah cukup lelah memilah dan memilih pujaan hati, ia coba untuk tenang dan benar-benar meyakinkan bahwa hati ini aman dari rasa tersakiti. Hingga suatu ketika perasaan mereka menimbulkan keajaiban dimana mereka mampu saling mengerti satu sama lain dengan cara yang sama, dan dia mulai mencoba meraba rasa cinta sang bidadari pujaan hati. Satu hari dengan perasaan yang saling memahami walau belum ada kejujuran diantara mereka, ia coba mengapai hati sang bidadari, mencoba merasakan getaran hati yang telah lama hilang, dan hingga satu hari dengan respon cinta dari sang bidadari membuat dia yakin hingga tanpa sadar dia benar-benar telah jatuh hati pada sang bidadari waluapun dia masih tak ingin mengakui itu, hari kedua dia mencoba menerawang perasaan sang bidadari, ia temukan perasaan yang sama seperti yang ia rasakan, betapa inginnya hati ini berkata jujur akan semua keindahan dengan kehadiran cinta yang mengubah warna pertemanan mereka menjadi warna-warna baru penuh cinta, ia mulai yakinkan hatinya temukan orang yang tepat, ingin rasanya segera ia berkata jujur, tuliskan sebuah surat pada sang pujaan hati, mulai memberi respon cinta yang sama dan mulai memberikan perhatian khusus pada sang bidadari, namun pada hari ke tiga entah dari mana datangnya luka, hidupnya seolah terhenti, detak jantung yang berdetak namun tak mampu ia rasakan, pahitnya hidup yang ia rasakan seolah menjadi racun yang mengubah warna-warna indah yang tadinya ia rasakan menjadi kumpalan-kumpalan rasa benci. bukan ia sengaja tapi inilah ujian keempat dari kisah cintanya, sedikit demi sedikit mulai terbongkar duri yang ternyata selama ini tak di ketahuinya dari sang pujaan hati, telah lama menusuknya dan memberikan racun yang teramat menyiksanya ketika ia tau semuanya. dalam waktu 3 hari keindahan cinta dari respon sang bidadari kepadanya, ternyata terselip pedang yang siap memenggal rasa cintanya. mulai ia sadari harusnya tak hanya respon cinta sang bidadari terhadapnya yang harus ia cari, ternyata dibalik semua cintanya telah ada cinta lain yang lebih dulu mengenal cinta sang bidadari. jelas wajar bila sang bidadari memilih cinta yang telah lama bersamanya dan telah lama menunggunya juga lebih tegas mengatakan perasaannya akan kepastian cintanya. disinilah ia kembali hancur bahkan sangat hancur hingga ia menjadi bodoh dan sangat bodoh, hingga tanpa sadar ia menjadi lelaki yang mengemis cinta pada seoarang bidadari yang memang benar ia tau ketulusan cintanya menjamin kesetiaan, namun perasaan yang tidak bisa komitmen pada satu cinta dan tak sabar menunggu kedatangan cinta yang tulus darinya untuk sang bidadari, membuat dia mulai mundur. walaupun sempat dai menjadi pujanggan gila yang mengemis permai suri milik orang lain. ia coba berikan waktu pada dirinya sendiri agar tetap gila dengan cintanya, tetap mengemis cinta sang bidadari dan anehnya sang bidadari tetap memberi pengharapan padanya padahal telah jelas ia ketahui bahwa telah ada orang lain yang telah menemani kini, bahkan masih banyak duri yang tak mampu ia jelaskan, karena terlalu sakit untuk lebih banyak tau tentang sang bidadari, sungguh hal ini yang tak pernah dapat dia mengerti dan tak dapat ia terima bahkan kadang menjadi kumpalan benci pada sang bidadari. tapi ditengah kegilaannya dia terus berusaha untuk sembuh dari kegilaan yang luar biasa terus berkurang hingga mulai rela, dengan mencari tau siapa saja orang yang ternyata bidadarinya jatuhkan rasa yag sama pada orang itu .meskipun sempat jatuh dan terpuruk dalam permainan cinta, ia mulai bangkit dan menatap kehidupannya yang baru diperkuliahan, mulai lebih fokus dengan kualitas dirinya dan berjanji "kalaupun cinta ini  memamng harus terus sendiri, maka akan ia jaga agar tetap sendiri, hingga ada orang yang tepat yang tidak akan membuang-buang waktunya dan akan merasa waktunya terbuang buang bila tak mencintainya". kini ia mulai menjadi bangunan kokoh yang hatinya tak tersentuh sedikitpun oleh cinta, mata dan hatinya ia butakan untuk sekedar memandang keindahan wajah, ia matikan untuk sekedar getaran cinta biasa. dan mulai berusaha merubah hidupnya agar lebih bijak dalam hidupnya, baginya cukuplah mencintai seorang yang ia kagumi, lalu berusaha ada bila ia diperlukan dan menjadi penghapus bagi kesedihan orang yang ia cinta dan menahan diri untuk menjadi pensil yang mengukir kebahagian orang yang dia cintai, karena dari pengalaman hidupnya ia sadari pula bahwa ada banyak tawaran cinta disekeliling kehidupan namun hanya akan ada satu cinta yang tepat dan ia merasa " hanya akan ada satu cinta yang akan bisa membahagiakannya, yaitu ketika ia siap memegang cinta dengan tangannya sendiri, memberikan warna pada cinta dari keringatnya sendiri dengan ikatan lingakaran di jari yang akan mengikat bidadarinya kelak hingga semua keputusan ada ditangannya, takan pernah ia lepas bila ia dapat, karena saat itu dia yang bisa memutuskan suatu perkara". tersenyum, bergembiara seolah tak ada beban, melakukan yang terbaik, mempersiapkan semua yang ia yakinkan dalam hatinya untuk menyambut waktu itu tiba, dimana tak ada lagi takut,sedih, marah dan itulah dunia yang ingin dia ciptakan yang selama ini coba ia dapat dari ke 4 kisah cintanya, hidup dengan kehidupan yang hanya ada satu rasa """" Kebahagian pada ketaatan Sang ilahi Robbi""". . . . . . dear si anak cupu

0 komentar: