Sabtu, 02 Mei 2015

0
Posted in

Assalamu’alaikum . .  .
Bismillah . . . .
“””Petualangan Sang Dakwah di Bukit Biru Tenggarong”””

Tanggal 24 April 2015, pukul 22.00 Wite adalah awal dari cerita kami para anggota muda baru di Organisasi Lembaga Dakwah Mushola Bahrul Ulum fakultas Prikanan dan Ilmu kelautan, tepat jam 10 malam
kami berkumpul di Mushola bahrul ulum untuk mempersiapkan jiwa dan raga kami
dalam petualangan kami yang rencananya kami akan mendaki sebuah bukit bernama “Bukit Biru” di Kebupaten Kutai Karta Negara kecamatan Tenggarong. Tepatnya saat itu kami berjumlah 12 orang yang terdiri dari 7 ikhwan dan 5 Akhwat yang siap hadir dalam perjalanan kami kali ini. Setelah semuanya berkumpul, kamipun mengawali Perjalanan kami dengan Membaca do’a dengan harapan
agar perjalanan kami ini mendapat Berkah dari Allah SWT sehingga kami bisa memetik setiap butir manfaat yang bisa kami ambil dari perjalanan kami ini. Setelah Selesai membaca do’a ketua kamipun tak lupa pula memberikan arahan-arahan kepada kami agar semua kegiatan berjalan dengan lancar dan sesuai rencana. Setelah selesai mendengarkan arahan ketua kamipun berangkat sesuai arahan ketua, karena kami semua pergi dengan menggunakkan motor, maka ketuapun memberikan arahan agar kami berengakat dengan formasi perjalanan dua motor Ikhwan didepan juga dua Motor ikhwan di belakang sementara Akhwat berada ditengah. Dengan berkat Rahmat Allah SWT kamipun sampai ditempat tujuan Sekitar pukul 23.03 wite di kota Tenggarong sebrang dan  beristirahat sejenak disalah satu rumah saudara kami di kecamatan Tenggarog. Setelah usai beristirahat sejenak, sekitar jam 03.00 Wite kamipun memulai perjalanan kami, semuanya berangkat dengan formasi yang sama kekaki bukit Biru, akan tetapi ada sedikit kendala yang kami hadapi ketika berpergian, akibat terburu-buru bergegas, kami sampai lupa untuk membaca do’a diawal berpergian dan lupa membawa terpal kami yang akan kami gunakan untuk Sholat Shubuh berjama’ah di puncak bukit nanti. Karna terpal itu sangat penting bagi kami, Jadi salah satu teman kami yang berada dibelakang harus kembali mengambil terpal tersebut. Sesampai di kaki gunung kami semua berkumpul di posko awal pendakian, mengisi buku tamu dan berwudhu karena diatas tidak akan ada air untuk beruwudhu, setelah semuanya siap kami mulai mendaki memasuki kawasan hutan  untuk sampai kepuncak gunung, dan saat itu saya berada di bagian belakang teman-teman yang lain bersama ketua dan salah satu teman kami yang akhwat yang tidak begitu kuat untuk melewati lika-liku perjalanan menuju puncak bukit yang licin, gelap dan terjal. Sampai di pertengahan perjalanan ia mulai kelelahan hingga tak begitu kuat lagi untuk berdiri, kamipun beristirahat sejenak sambil beristirahat, saya mencoba mengajaknynya bercerita agar melupakan kelelahannya, dan subhannallah dunia ini memang tak selebar daun kelor tapi mudah bagi Allah mengatur sekenerio hambanya dengan Sekenerio terbaik dari sekenerio cerita manapun. Kami adalah teman seangkatan akan tetapi karena berbeda jurusan, kami tak begitu sering berkomunikasi dan sebagai seorang muslim kami juga memiliki batasan-batasan yang tidak boleh kami lewati. Ternyata ketika ada waktu seperti ini saya beru mengetahui bahwa dia mengenal sahabat saya ketika saya duduk dibanggu sekolah menengah pertama dan dia adalah teman satu kelasnya saat di SMA. Kamipun melanjuti perjalanan, dan saya terus berusaha mengajaknya bercerita agar ia lupa dengan kelelahan yang mengikat mentalnya. Setelah beberapa kali terhenti diperjalanan Akhirnya semuapun sampai dipuncak gunungbukit biru sekitar jam 04.30 pagi, sambil menunggu waktu azan Shubuh kami beristirahat sejenak melapas lelah dan letih kami dalam pejalanan, dan seling beberapa waktu kemudian terdengarlah suara azan yang indah sekali terdengar di teling saya hingga bergetar hati ini merasakannya, suara Azan yang kami dengarkan di puncak gunung memberikan satupelajaran penting bagi kami sebagai seorang muslim “ sejauh apapun kaki seorang muslim melangkah, setinggi apapun kaki seorang muslim mendaki, kaki seorang muslim akan tetap terhenti di lima waktu wajib bagi seorang muslim untuk melupakan semua kecintaan dunianya dengan mengingat Allah SWT dalam setiap sujudnya”. Kamipun segera mempersiapkan diri untuk sholat Shubuh berjama’ah dan inilah saat pertama bagi kami melaksanakan sholat shubuh berjama’ah dipuncak bukit yang tinggi dan semuanya akan menjadi kenangan yang akan terus kami ingat seumur hidup dalam setiap langkah kami nanti meski telah tiba waktu bagi kami untuk berpisah. Setelah melaksanakan sholat shubuh, kami mengisi waktu luang dengan mengabadikan mement ini dalam beberapa foto bersama, sambil menikmati indahnya embun di pegunungan. Setelah semua kegiatan selesai kamipun bergegas untuk kembali pulang, dengan penuh rasa syukur didalam hati kami masing-masing, perjalanan ini memberikan banyak sekali pelajaran berharga dan juga memberikan gambaran kepada kami “ Beginilah keadaan kami sebagai muslim akhir zaman, beberapa langkah usaha kami untuk selangkah demi selangkah lebih dekat dengan dinding langit, layaknya kehidupan kami yang berserah diri dalam hal tingkat jiwa seorang muslim, kami berserah diri tentang tingkat keimanan dan akhlak kami kerena yang kami tau kami akan terus melangkah untuk maju dan terus maju dalam memperbaiki diri hingga menjadi seorang muslim yang sesungguhnya”. Never the end :) because there will always be story behind every human being
"Sesungguhnya mukmin itu bersaudara" (Surah al-Hujuraat:ayat 10)
"Tidak beriman seorang muslim itu sehingga dia mencintai saudaranya
sepertimana dia mencintai buat dirinya" (Hadis Riwayat al-Bukhari)
Hadis riwayat Nukman bin Basyir ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam. (Shahih Muslim No.4685)

Hadis riwayat Abu Musa ra. dia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian yang lain. (Shahih Muslim No.4684)

0 komentar: