Bismillah . . .
Judul : ta’aruf
Cinta . . . !!! kurasa satu kata ini
adalah kata yang paling bagus untuk ku memulai tulisan ini. Yahhh . . . selain menarik, kata ini juga adalah kata
yang seluru mahluk di setiap sudut dunia juga pasti tau dan pernah merasakan
yang namanya cinta, tidak terkecuali aku yang menulis novel ini dan kamu yang
membaca novel ini. Ini adalah kisah ku, kisah seorang remaja yang tak pernah
tau dengan apa yang namanya pacaran akan tetapi kehidupnnya di kelilingi
orang-orang yang bermesra’an didepan dan di belakang matanya, kamu bisa
membayangkan bagaimana keadaan ku saat itu, silahkan fikirkan sendiri !!! tidak
ingin menjadi seorang yang munafik, aku juga pernah merasakan yang namanya
jatuh cinta, tapi sampai aku dudu
k di bangku kuliahpun aku masih tak pernah
sekalipun memeliki seorang pacar, bukan karena tak ada yang mau, tapi karena
aku selalu menjadi sahabat buat mereka sehingga tak ada satupun yang percaya
bahwa manusia seperti ku juga bisa jatuh cinta.
Kini aku
mulai menjalankan kehidupanku yang baru di bangku perkuliahan tanpa seorangpun
yang ku kenal dan di daerah yang baru pertama kali ku injakan kakiku di kota
tepian ini “ kota samarinda”. Akan tapi bagi seorang yang seperti ku, sendiri
bukanlah hal yang menakutkan karena aku selalu dengan mudah mendapatkan teman
dimanapun aku berada, tidak terkecuali saat ini ketika aku sedang melakukan tes
untuk masuk perkuliahan yang aku inginkan, aku bertemu dengan seorang yang
langsung menyapaku dengan salam dan memanggilku dengan sebutan “sahabat filah”,
aku tersentak seketika dengan panggilan itu, karena baru kali ini aku melihat
orang yang seramah dia dan kupikir dia pasti lulusan dari sekolah pesantren. Tidak begitu
banyak yang kami bicarakan, hanya sebatas berkenalan sebelum kami masuk
keruangan untuk melakukan tes tertulis masuk perkuliahan, dan ternyata benar
dugaan ku dia adalah seorang lulusan pesantren sunan drejat dari lamongan dan
namanya adalah muhammad khullah Aditya, aku sebenarnya tidak mengerti dengan
pilihannya berkuliah di kota samarinda ini dan memilih jurusan di fakultas
prikanan, sementara dia terlihat seperti seorang pendakwa mudah yang sangat
berpotensi dalam ilmu agama, namun singkat jawabnya ketika ku tanya tentang
pilihannya itu, dia hanya berkata bahwa “jika kita memang sungguh-sungguh
mencintai agama, tempat bukanlah alasan kita untuk berhenti mempelajari ilmu
agama, bahkan dia menguatkan pendapatnya ini dengan hadis rosulullah bahwa
dilautan sesungguhnya terdapat nikmat yang amat besar dan kerena itu pula dia
ingin menjadi seorang sarjana prikanan untuk mencari nikmat itu dengan tetap
memegang teguh syari’at islam”. Aku senang telah di pertemukan dengan orang
sepertinya, sebab baru sebentar saja bertemu aku merasa telah mendapatkan
pelajaran berharga dari perkataanya, akan tetapi aku pikir kami tidak akan
pernah bertemu lagi apalagi menjadi seorang sahabat yang akan selalu bersama
setiap harinya, sebab pilihanku dan pilahanya sangat berbeda, aku saat ini
sangat bersikeras mencapai cita-citaku untuk menjadi seorang teknisi handal
yang akan pergi ke Negara Arab Saudi untuk melanjutkan S2 di kota Jordan di
Universitas raja kholid karena disana ada dua jurusan yang ku minati yaitu
fakuttas teknik industry dan fakultas teknik elecktro. Namun siapa yang sangka,
mimpiku saat itu seolah terhempas dan semua rencanaku seolah hancur berantakan.
Aku gagal masuk fakultas teknik, akan tetapi aku tetap lulus dalam tes saat
itu, dan siapa yang dapat menduga, aku sendiri juga tak pernah sadar bahwa
diantara pilihanku yang ku pilih dalam pendaftaran online masuk perkuliahan
SBNPTN, aku memilih jurusan prikanan. Saat itu yang aku ingat aku membuat
sebuah rencana terburuk jika seandainya aku tak bisa lulus dari mimpiku untuk
masuk fakultas teknik, yaitu aku ingin memutuskan untuk menjadi seorang
menejemen. Namun tak pernah aku sadari bahwa jurusan menejemen yang kupilih itu
adalah berasal dari fakultas prikanan. Jujur saat itu aku masih sangat terpuruk
dengan takdirku saat ini, sebab aku sudah sangat mencintai kehidupanku di dunia
teknik, bahkan aku mencoba kembali mendaftar dalam gelombang kedua tes tertulis
masuk perkuliahan SMMPTN, karena aku sangat berharap bisa melanjutkan mimpiku.
Namun aku sudah tak menemui pilihan untuk masuk jurusan Teknik yang aku
iginkan, yang tersisa hanya teknik pertambangan, namun kerena sudah sangat
mencintai dunia teknik, saat itu aku masih bersikeras untuk tetap dapat masuk
jurusan teknik, akan tetapi aku sadar mimpi ku takan sama bila dalam jurusan
teknik yang sama tapi alur yang berbeda, aku sangat terpuruk dan kebingungan
akan cita-citaku yang sudah ku gantung lebih tinggi dari langit, namun sirna
seketika saat terasa tak ada lagi jalan bagi ku untuk kembali bangkit dan
mengumpulkan serpihan-serpihan mimpiku yang telah hancur untuk disusun kembali
dan kembali ku gantungkan cita-citaku setinggi langit. Saat itu aku sangat
bingung dengan keadaan ku namun disisi lain aku juga tak ingin membuat orang
tua ku terlalu berfikir keras dengan keadaan ku, tapi aku juga tidak mungkin
melepas begitu saja mimpi yang sudah kususun dengan menghabiskan waktuku setiap
harinya untuk menyusun kesuksesan yang kurencanakan dimasa depanku. Aku sudah
terlanjur mengikuti gelombang kedua dan kembali mengeluarkan biaya untuk urusan
kuliahku sehingga rasanya aku sudah sangat merepotkan orang tua ku, namun jujur
aku juga bingung dengan keadaanku yang kini tak memiliki arah dan tujuan,
sampai seketika aku teringat dengan jaminan lulus digelombang kedua untuk
jurusanku yang mendapatkan jaminan dari universitas VDC malang. Aku mencoba
mengajukan tujuanku kepada orang tua ku untuk pergi keluar provinsi ku, namun
seperti biasa aku akan selalu berhati-hati dalam berbicara jadi aku buat
seoalah perkataan ku itu hanyalah sebuah rencana lelucon ku saja. Namun
hasilnya tetap saja aku tak mungkin bisa meneruskan mimpiku di dunia teknik
sebab biaya kuliah disana cukup besar, dan akhirnya aku pasrah dengan
keadaanku, setidaknya aku tidak terlalu membebankan fikiran orang tuaku, dan
aku juga memutuskan untuk tetap mengambil jurusanku yang sudah lulus dan
membatalkan pilihanku untuk mengikuti gelombang kedua agar tidak terlalu
mengeluarkan biaya.
Masih
dengan kepala yang penuh dengan kebingungan, aku coba terus melangkah untuk
terus melanjutkan hidupku, walaupun kini aku tak tau harus kemana dan
bagaimana, saat itu hanya ada dua yang menjadi semangat dalam hidupku, yang
pertama dari kata motivasi yang kubaca bahwa kita hidup layaknya mengendarai
sepeda, kita harus tetap maju untuk menjaga keseimbangan dan juga ketika kita
terhambat dalam mimpi kita, kita harus kembali bangkit dan menyimpan mimpi kita
yang lalu dan kembali membangun mimipi-mimpi kita yang baru, kata motivasi ini
menjadi lebih kuat dengan pesan yang salalu kubaca di buku kenang-kenanganku,
bahwa masa depan adalah milik mereka yang mau menjaga keindahan mimpi-mimpi mereka”Get’s
yaour dream”. Dan yang kedua yang menjadi penyemngat ku saat ini adalah dengan
selalu berfikir baik dengan pilihan Allah SWT untukku. Aku berfikir mungkin
Allah SWT sengaja memasukkan ku ke fakultas prikanan untuk bertemu dengan
hambanya yang yang dapat mengajarkanku untuk terus mengingat Nya dan
mengerjakan segala printah Nya. Namun ketika aku melakukan registrasi ulang,
untuk mengurus urusan awal perkuliahku, aku tak sedikitpun melihat keberadaan
khullah. terlintas sedikit di fikiranku mungkin saja dia tidak lulus, tapi
rasanya tidak mungkin dia terlihat seperti seorang anak yang rajin jadi dia
pasti bisa mendapatkan jurusan yang diinginkannya, mungkin karna akunya saja ya
g dating terlalu pagi. Aku melanjutkan urusanku untuk pergi kelantai 2 fakultas
prikanan untuk meminta tanda tangan kartu registrasi mahasiswa ku, namun ada
kejadian istimewah dalam hidupku ketika tepat berada di depan kantor calon
fakultas ku, aku tersentak melihat
seorang yang seakan mirip bidadari tersenyum kepadaku dan menghampiriku bersama
temannya, kemudian ia bertanya kepadaku tentang dimana lokasi untuk meminta
tanda tangan kartu registrasinya, akupun mencoba bersikap biasa kepadanya dan
mengatakan kepadanya bahwa aku juga masih belum tau lokasi untuk meminta tanda
tangan, tapi entah mengapa bibir dan badanku saat itu seolah tak bisa ku
kendalikan hingga sepontan ketika dia ingin pergi aku mengingat kata di novel
Ayat-ayat cinta.
Aku:
istanah suhaya ukhti
Dia :
afwan, fi’eh Khaman ya akhi ???
Aku :man
ismuki . . . ???
Mereka
tersenyum kepadaku, akupun bingung dengan tindakanku sebab aku tidak pernah
menyangka akan bisa berkata seperti itu, padahal aku bukanlah seorang yang
pandai berbahasa arab, aku hanya kadang suka mempelajari kata-kata mutiara nya
saja.. kemudian teman dari gadis yang layaknya bidadari itu berkata “hia Annisa
su’adaa ya akhi”, lalu dia pun tersenyum kepadaku dan mengucapkan salam dan
kemudian bergegas pergi menarik tangan temannya, akupun tersenyum kepadanya dan
menjawab salamnya. Dalam keadaan diri yang sudah tak terkontrol lagi aku tetap
berusaha mencoba bersikap biasa kepadanya layaknya seorang muslim yang menjaga
kehormatannya dan kehormatan orang lain. Akan tetapi sungguh hari itu adalah
hari pertama aku menjadi seorang yang diluar kendali diriku sendiri,keindahan
senyuman dan kelembutan tutur katanya serta sebuah nama berlafalkan Annisa
su’adaa seolah bertasbih difikiranku seakan hari itu selalu terulang
difikiranku.



0 komentar:
Posting Komentar