Kamis, 25 Juni 2015

0
Posted in
Bismillah . . .

Judul : ta’aruf

Cinta . . . !!! kurasa satu kata ini adalah kata yang paling bagus untuk ku memulai tulisan ini. Yahhh . . .  selain menarik, kata ini juga adalah kata yang seluru mahluk di setiap sudut dunia juga pasti tau dan pernah merasakan yang namanya cinta, tidak terkecuali aku yang menulis novel ini dan kamu yang membaca novel ini. Ini adalah kisah ku, kisah seorang remaja yang tak pernah tau dengan apa yang namanya pacaran akan tetapi kehidupnnya di kelilingi orang-orang yang bermesra’an didepan dan di belakang matanya, kamu bisa membayangkan bagaimana keadaan ku saat itu, silahkan fikirkan sendiri !!! tidak ingin menjadi seorang yang munafik, aku juga pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, tapi sampai aku dudu
k di bangku kuliahpun aku masih tak pernah sekalipun memeliki seorang pacar, bukan karena tak ada yang mau, tapi karena aku selalu menjadi sahabat buat mereka sehingga tak ada satupun yang percaya bahwa manusia seperti ku juga bisa jatuh cinta.
Kini aku mulai menjalankan kehidupanku yang baru di bangku perkuliahan tanpa seorangpun yang ku kenal dan di daerah yang baru pertama kali ku injakan kakiku di kota tepian ini “ kota samarinda”. Akan tapi bagi seorang yang seperti ku, sendiri bukanlah hal yang menakutkan karena aku selalu dengan mudah mendapatkan teman dimanapun aku berada, tidak terkecuali saat ini ketika aku sedang melakukan tes untuk masuk perkuliahan yang aku inginkan, aku bertemu dengan seorang yang langsung menyapaku dengan salam dan memanggilku dengan sebutan “sahabat filah”, aku tersentak seketika dengan panggilan itu, karena baru kali ini aku melihat orang yang seramah dia dan kupikir dia pasti  lulusan dari sekolah pesantren. Tidak begitu banyak yang kami bicarakan, hanya sebatas berkenalan sebelum kami masuk keruangan untuk melakukan tes tertulis masuk perkuliahan, dan ternyata benar dugaan ku dia adalah seorang lulusan pesantren sunan drejat dari lamongan dan namanya adalah muhammad khullah Aditya, aku sebenarnya tidak mengerti dengan pilihannya berkuliah di kota samarinda ini dan memilih jurusan di fakultas prikanan, sementara dia terlihat seperti seorang pendakwa mudah yang sangat berpotensi dalam ilmu agama, namun singkat jawabnya ketika ku tanya tentang pilihannya itu, dia hanya berkata bahwa “jika kita memang sungguh-sungguh mencintai agama, tempat bukanlah alasan kita untuk berhenti mempelajari ilmu agama, bahkan dia menguatkan pendapatnya ini dengan hadis rosulullah bahwa dilautan sesungguhnya terdapat nikmat yang amat besar dan kerena itu pula dia ingin menjadi seorang sarjana prikanan untuk mencari nikmat itu dengan tetap memegang teguh syari’at islam”. Aku senang telah di pertemukan dengan orang sepertinya, sebab baru sebentar saja bertemu aku merasa telah mendapatkan pelajaran berharga dari perkataanya, akan tetapi aku pikir kami tidak akan pernah bertemu lagi apalagi menjadi seorang sahabat yang akan selalu bersama setiap harinya, sebab pilihanku dan pilahanya sangat berbeda, aku saat ini sangat bersikeras mencapai cita-citaku untuk menjadi seorang teknisi handal yang akan pergi ke Negara Arab Saudi untuk melanjutkan S2 di kota Jordan di Universitas raja kholid karena disana ada dua jurusan yang ku minati yaitu fakuttas teknik industry dan fakultas teknik elecktro. Namun siapa yang sangka, mimpiku saat itu seolah terhempas dan semua rencanaku seolah hancur berantakan. Aku gagal masuk fakultas teknik, akan tetapi aku tetap lulus dalam tes saat itu, dan siapa yang dapat menduga, aku sendiri juga tak pernah sadar bahwa diantara pilihanku yang ku pilih dalam pendaftaran online masuk perkuliahan SBNPTN, aku memilih jurusan prikanan. Saat itu yang aku ingat aku membuat sebuah rencana terburuk jika seandainya aku tak bisa lulus dari mimpiku untuk masuk fakultas teknik, yaitu aku ingin memutuskan untuk menjadi seorang menejemen. Namun tak pernah aku sadari bahwa jurusan menejemen yang kupilih itu adalah berasal dari fakultas prikanan. Jujur saat itu aku masih sangat terpuruk dengan takdirku saat ini, sebab aku sudah sangat mencintai kehidupanku di dunia teknik, bahkan aku mencoba kembali mendaftar dalam gelombang kedua tes tertulis masuk perkuliahan SMMPTN, karena aku sangat berharap bisa melanjutkan mimpiku. Namun aku sudah tak menemui pilihan untuk masuk jurusan Teknik yang aku iginkan, yang tersisa hanya teknik pertambangan, namun kerena sudah sangat mencintai dunia teknik, saat itu aku masih bersikeras untuk tetap dapat masuk jurusan teknik, akan tetapi aku sadar mimpi ku takan sama bila dalam jurusan teknik yang sama tapi alur yang berbeda, aku sangat terpuruk dan kebingungan akan cita-citaku yang sudah ku gantung lebih tinggi dari langit, namun sirna seketika saat terasa tak ada lagi jalan bagi ku untuk kembali bangkit dan mengumpulkan serpihan-serpihan mimpiku yang telah hancur untuk disusun kembali dan kembali ku gantungkan cita-citaku setinggi langit. Saat itu aku sangat bingung dengan keadaan ku namun disisi lain aku juga tak ingin membuat orang tua ku terlalu berfikir keras dengan keadaan ku, tapi aku juga tidak mungkin melepas begitu saja mimpi yang sudah kususun dengan menghabiskan waktuku setiap harinya untuk menyusun kesuksesan yang kurencanakan dimasa depanku. Aku sudah terlanjur mengikuti gelombang kedua dan kembali mengeluarkan biaya untuk urusan kuliahku sehingga rasanya aku sudah sangat merepotkan orang tua ku, namun jujur aku juga bingung dengan keadaanku yang kini tak memiliki arah dan tujuan, sampai seketika aku teringat dengan jaminan lulus digelombang kedua untuk jurusanku yang mendapatkan jaminan dari universitas VDC malang. Aku mencoba mengajukan tujuanku kepada orang tua ku untuk pergi keluar provinsi ku, namun seperti biasa aku akan selalu berhati-hati dalam berbicara jadi aku buat seoalah perkataan ku itu hanyalah sebuah rencana lelucon ku saja. Namun hasilnya tetap saja aku tak mungkin bisa meneruskan mimpiku di dunia teknik sebab biaya kuliah disana cukup besar, dan akhirnya aku pasrah dengan keadaanku, setidaknya aku tidak terlalu membebankan fikiran orang tuaku, dan aku juga memutuskan untuk tetap mengambil jurusanku yang sudah lulus dan membatalkan pilihanku untuk mengikuti gelombang kedua agar tidak terlalu mengeluarkan biaya.
Masih dengan kepala yang penuh dengan kebingungan, aku coba terus melangkah untuk terus melanjutkan hidupku, walaupun kini aku tak tau harus kemana dan bagaimana, saat itu hanya ada dua yang menjadi semangat dalam hidupku, yang pertama dari kata motivasi yang kubaca bahwa kita hidup layaknya mengendarai sepeda, kita harus tetap maju untuk menjaga keseimbangan dan juga ketika kita terhambat dalam mimpi kita, kita harus kembali bangkit dan menyimpan mimpi kita yang lalu dan kembali membangun mimipi-mimpi kita yang baru, kata motivasi ini menjadi lebih kuat dengan pesan yang salalu kubaca di buku kenang-kenanganku, bahwa masa depan adalah milik mereka yang mau menjaga keindahan mimpi-mimpi mereka”Get’s yaour dream”. Dan yang kedua yang menjadi penyemngat ku saat ini adalah dengan selalu berfikir baik dengan pilihan Allah SWT untukku. Aku berfikir mungkin Allah SWT sengaja memasukkan ku ke fakultas prikanan untuk bertemu dengan hambanya yang yang dapat mengajarkanku untuk terus mengingat Nya dan mengerjakan segala printah Nya. Namun ketika aku melakukan registrasi ulang, untuk mengurus urusan awal perkuliahku, aku tak sedikitpun melihat keberadaan khullah. terlintas sedikit di fikiranku mungkin saja dia tidak lulus, tapi rasanya tidak mungkin dia terlihat seperti seorang anak yang rajin jadi dia pasti bisa mendapatkan jurusan yang diinginkannya, mungkin karna akunya saja ya g dating terlalu pagi. Aku melanjutkan urusanku untuk pergi kelantai 2 fakultas prikanan untuk meminta tanda tangan kartu registrasi mahasiswa ku, namun ada kejadian istimewah dalam hidupku ketika tepat berada di depan kantor calon fakultas ku,  aku tersentak melihat seorang yang seakan mirip bidadari tersenyum kepadaku dan menghampiriku bersama temannya, kemudian ia bertanya kepadaku tentang dimana lokasi untuk meminta tanda tangan kartu registrasinya, akupun mencoba bersikap biasa kepadanya dan mengatakan kepadanya bahwa aku juga masih belum tau lokasi untuk meminta tanda tangan, tapi entah mengapa bibir dan badanku saat itu seolah tak bisa ku kendalikan hingga sepontan ketika dia ingin pergi aku mengingat kata di novel Ayat-ayat cinta.
Aku: istanah suhaya ukhti
Dia : afwan, fi’eh Khaman ya akhi ???
Aku :man ismuki . . . ???

Mereka tersenyum kepadaku, akupun bingung dengan tindakanku sebab aku tidak pernah menyangka akan bisa berkata seperti itu, padahal aku bukanlah seorang yang pandai berbahasa arab, aku hanya kadang suka mempelajari kata-kata mutiara nya saja.. kemudian teman dari gadis yang layaknya bidadari itu berkata “hia Annisa su’adaa ya akhi”, lalu dia pun tersenyum kepadaku dan mengucapkan salam dan kemudian bergegas pergi menarik tangan temannya, akupun tersenyum kepadanya dan menjawab salamnya. Dalam keadaan diri yang sudah tak terkontrol lagi aku tetap berusaha mencoba bersikap biasa kepadanya layaknya seorang muslim yang menjaga kehormatannya dan kehormatan orang lain. Akan tetapi sungguh hari itu adalah hari pertama aku menjadi seorang yang diluar kendali diriku sendiri,keindahan senyuman dan kelembutan tutur katanya serta sebuah nama berlafalkan Annisa su’adaa seolah bertasbih difikiranku seakan hari itu selalu terulang difikiranku.

0 komentar: